Tampilkan postingan dengan label persahabatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label persahabatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Mei 2015

Tentang Kita - Sepotong Kenangan di Kampung Arab


Seorang gadis terduduk lesu di selasar masjid. Ia menyandarkan tubuhnya yang lelah dan meluruskan kaki, sambil memeluk ransel bermotif bunga. Gadis itu menengok jam tangannya sekali lagi. 2.38 AM. Ia menggerutu ke sekian kalinya. Sudah hampir setengah jam ia duduk di situ, tentu saja sambil terus menggerutu dalam hati. Orang yang ditungguinya tak kunjung datang padahal lelah dan kantuk sudah menyergap tubuhnya sedari berjam-jam lalu.

Ia tak bisa tidur nyenyak di kereta. Penumpang yang ngobrol, benda jatuh, gesekan rel, dan ditambah lagi dengkuran teman duduknya, tidak membiarkannya tidur tenang. Sungguh perjalanan 12 jam yang melelahkan. Ia begitu lega mendengar pengumuman akan tiba sebentar lagi di Stasiun Pasar Turi, stasiun terakhir, stasiun tujuannya. Tidak sabar rasanya untuk membaringkan tubuh di kasur. Ia begitu bersemangat ketika turun dari kereta. Bahkan ia tak peduli lagi dengan desak penumpang dan beraneka aromanya. Begitu keluar dari stasiun ia langsung diserbu tukang ojek, supir angkot, juga supir taksi. Ia menolak dengan halus, berkata ia akan dijemput. Tapi ternyata si penjemput tak terlihat batang hidungnya. Maka di sinilah ia, di selasar masjid, menunggu.

Sabtu, 27 April 2013

Cappucino, Frappe, and Black Coffe [Kuis Opening Media Grup Sakata.com]




Kita terbiasa bersama sejak kecil. Kita bukan lagi saling mengenal, kita saling memahami. Kita belajar, tertawa, mengamen, bahkan memaknai kehilangan bersama. Tapi kita sangat berbeda satu sama lain. Edo yang keras kepala dan pemberani, kamu yang baik hati tapi cuek, dan aku yang selalu kalian sebut anak manja.
            “Tapi kau yang paling penyayang di antara kami, Rin. Aku tahu itu saat kau memberikan nasimu pada kakek tua pengemis, padahal kau sendiri kelaparan,” kata Edo suatu kali.
            Aku penyayang? Mungkin karena aku tahu betul bagaimana rasanya sendiri, kehilangan, juga kelaparan. Tapi bukankah kamu dan Edo juga? Ah, pada dasarnya, kita memiliki sisi baik masing-masing.
            “Oi, yang benar saja? Sisi baik katamu, Rin? Kalau kau dan Niko aku masih percaya. Tapi Edo? Dia tidak punya sisi baik sama sekali. Aku tahu kau mencuri di kasku. Ah, aku saja yang sesekali membelikan gorengan kau khianati, apalagi orang lain,” celetuk Mang Is, penjaga WC umum di terminal.

Minggu, 06 Januari 2013

Thanks for Being My Everything

Facebook..
Banyak hal tak terduga yang terjadi di sana, mulai dari yang gak enak, yang nyesek, sampai yang membahagiakan.

Salah satu yang nggak enaknya adalah waktu akun facebook saya dibajak orang dari negeri antah berantah. Tapi hal yang menyebalkan ini, justru saya syukuri di kemudian hari. Bagaimana tidak, gara-gara si pembajak ini, saya bisa ngobrol sama seseorang yang bisa dibilang saya kagumi.. Haha..

Terlepas dari itu, masih banyak hal indah lain yang saya alami di facebook. Bagi saya (yang sekarang, gak tau dulunya gimana) facebook jadi jembatan menuju mimpi-mimpi saya. Facebook juga mempertemukan saya dengan orang-orang hebat yang dulunya hanya saya kenal lewat media. Facebook juga mempertemukan saya dengan para malaikat tanpa sayap, orang-orang yang begitu berbaik hati pada saya padahal kami belum pernah bertemu langsung sebelumnya. Ah, indahnya..