Karena Maha Karya-Nya terlampau indah untuk dilewatkan, maka aksara ini mengabadikannya
Jumat, 29 Mei 2015
#PUISIMALAM Edisi 23 Mei 2015
#PUISIMALAM diadakan oleh NulisBuku melalui akun twitter @nulisbuku
Ini adalah puisi saya yang di-retweet.
Kata wajibnya adalah pejam.
*
Pejamkan matamu kasih
Biar terlena dalam buih rindu ini
Yang senantiasa mengeja namamu
Di saban riang dan perih
**
Ada padang tandus di rumah-rumah
Tanpa nasi, tanpa air
Tapi pemilik tahta pejam mata
Meski nyalak, mereka tak peduli
#PUISIMALAM Edisi 21 Mei 2015
#PUISIMALAM diadakan oleh NulisBuku melalui akun twitter @nulisbuku
Ini adalah puisi saya yang di-retweet.
Kata wajibnya adalah tubuh.
"Tubuh ini telah letih...
menerima pedih,
menahan perih,"
lirih Ibu Pertiwi.
#PUISIMALAM Edisi 19 Mei 2015
#PUISIMALAM diadakan oleh +NulisBuku melalui akun twitter @nulisbuku
Ini adalah puisi saya yang di-retweet.
Kata wajibnya adalah gerak.
*
Gerak itu sudah cukup renta
Bahkan semangatnya mulai terlunta-lunta
Duhai gerakan pemuda, entah di mana rimbanya
**
Gerak mahasiswa dinanti seluruh negeriKetika penguasa mulai leluasa kuasa
Apalah,
Mahasiswa sedang sibuk, bernarsis
#PUISIMALAM Edisi 12 Mei 2015
#PUISIMALAM diadakan oleh +NulisBuku melalui akun twitter @nulisbuku
Ini adalah puisi pertama saya yang di-retweet.
Kata wajibnya adalah kopi.
Kau menjelma kopi.
Begitu pahit, tajam, juga meninggalkan jejak candu.
Tak jera mencicipi, meski tubuh berontak.
Sebuah Awal Selalu Menyenangkan
Bukankah begitu?
Saat langkah pertama kita tanpa pegangan, yang lalu disambut riuh seisi rumah.
Kala pertama kali memakai seragam, masuk sekolah, dan bertemu dengan teman baru.
Waktu pertama kali jatuh cinta dan mulai merasa risih berdekatan dengan lawan jenis.
Ingatkah bagaimana rasanya? Deg-degan, tapi begitu excited.
Kalau begitu, bukankah sebuah awal selalu menyenangkan?
Kita menemukan hal baru, mencoba, hingga tahu bagaimana rasanya. Memang kadang kala harus dilalui dengan kesan buruk, tapi selalu mendebarkan -dan debaran itulah yang membuatnya menyenangkan.
Saya ingat pertama kali mengenal jam. Dulu di rumah ada semacam jam mainan. Dasarnya papan hitam, dengan jarum jam merah yang bisa digerakkan sesuka hati. Aunty saya yang mengenalkan penunjuk waktu itu. Ia mengajari bagaimana posisi jarum ketika angka tepat 10.00 atau ketika 10.30 dan bahkan mengajari saya bahwa setiap jarak di antara jam bernilai 5 menit. Saya ingat betul bagaimana perasaan saya waktu itu. Beberapa kali ajaran dan saya akhirnya bisa membaca jam! Bahagianya tentu bukan main.
Saat langkah pertama kita tanpa pegangan, yang lalu disambut riuh seisi rumah.
Kala pertama kali memakai seragam, masuk sekolah, dan bertemu dengan teman baru.
Waktu pertama kali jatuh cinta dan mulai merasa risih berdekatan dengan lawan jenis.
Ingatkah bagaimana rasanya? Deg-degan, tapi begitu excited.
Kalau begitu, bukankah sebuah awal selalu menyenangkan?
Kita menemukan hal baru, mencoba, hingga tahu bagaimana rasanya. Memang kadang kala harus dilalui dengan kesan buruk, tapi selalu mendebarkan -dan debaran itulah yang membuatnya menyenangkan.
Saya ingat pertama kali mengenal jam. Dulu di rumah ada semacam jam mainan. Dasarnya papan hitam, dengan jarum jam merah yang bisa digerakkan sesuka hati. Aunty saya yang mengenalkan penunjuk waktu itu. Ia mengajari bagaimana posisi jarum ketika angka tepat 10.00 atau ketika 10.30 dan bahkan mengajari saya bahwa setiap jarak di antara jam bernilai 5 menit. Saya ingat betul bagaimana perasaan saya waktu itu. Beberapa kali ajaran dan saya akhirnya bisa membaca jam! Bahagianya tentu bukan main.
Langganan:
Postingan (Atom)