keeksisan gw di line play dimulai ketika gw lulus, gw lagi nunggu pengumuman, dan gw ga ada kerjaan *hahaha. sumpah, gw bosan total. gw ga tau mesti ngapain buat ngisi hari kosong gw. ga mungkin juga gw nonton tiap hari kan? bisa bobol tabungan gw. gw bukan tipe orang yang mau menguras tabungan cuma demi kesenangan sesaat.
fyi, gw hobi nulis. gw pengen banget jadi penulis. sialnya adalah... setelah 5 tahun berlalu sejak gw memutuskan ingin jadi penulis, gw baru bisa nelurin SATU antologi puisi (diterbitkan di penerbit indie) dan SATU cerpen (dimuat di majalah cerpen nasional). oke, ada sekitar lima buku (kalo gw ga salah hitung) yang diterbitkan juga. tapi itu antologi bersama (bareng penulis lain) dan bagi gw itu ga dihitung. gw ngerasa gagal gitu. harusnya gw udah bisa nelurin minimal dua atau tiga novel. makanya setelah lulus ini, gw pengen nulis yang rajin. gw memutuskan mengisi hari luang gw dengan nulis.
tapi ternyata gw ga bisa nulis sama sekali..
Karena Maha Karya-Nya terlampau indah untuk dilewatkan, maka aksara ini mengabadikannya
Kamis, 08 Agustus 2013
Sabtu, 27 April 2013
Operasi Jaring Merah (Pilo Poly)
Saya sedang online memantau facebook ketika menjelang tengah malam. Biasa, sindrom rutin saya tiap kali liburan :)
Dan saya menemukan puisi ini. Keren menurut saya. Saya suka sekali pemilihan diksinya. ^^
Let's cekidot!
Operasi Jaring Merah*
Pilo Poly
Ayah
jangan ke situ
ke ladang pembantaian
masih kucium anyir darah di sana
serta luka yang tak mengenal kita
apalagi sujud sujud ampun
yang kita usung
Apakah kau lihat
orang-orang berjubah negara
telah merampas hak-hak kita
pajak, kemerdekaan, dan kebebasan
adalah barang langka
yang tak pernah kita tahu
harumnya seperti apa
Puri Gading, 27/04/2013
Catatan: *kata lain Daerah Operasi Militer (DOM)
Bagaimana menurutmu? Keren kan?Oh ya, pemilik puisi ini bisa kamu hubungi di facebook: Pilo Poly Cendolers
Cappucino, Frappe, and Black Coffe [Kuis Opening Media Grup Sakata.com]
Kita terbiasa bersama
sejak kecil. Kita bukan lagi saling mengenal, kita saling memahami. Kita belajar,
tertawa, mengamen, bahkan memaknai kehilangan bersama. Tapi kita sangat berbeda
satu sama lain. Edo yang keras kepala dan pemberani, kamu yang baik hati tapi
cuek, dan aku yang selalu kalian sebut anak manja.
“Tapi kau yang paling penyayang di antara kami, Rin. Aku
tahu itu saat kau memberikan nasimu pada kakek tua pengemis, padahal kau
sendiri kelaparan,” kata Edo suatu kali.
Aku penyayang? Mungkin karena aku tahu betul bagaimana
rasanya sendiri, kehilangan, juga kelaparan. Tapi bukankah kamu dan Edo juga?
Ah, pada dasarnya, kita memiliki sisi baik masing-masing.
“Oi, yang benar saja? Sisi baik katamu, Rin? Kalau kau
dan Niko aku masih percaya. Tapi Edo? Dia tidak punya sisi baik sama sekali.
Aku tahu kau mencuri di kasku. Ah, aku saja yang sesekali membelikan gorengan
kau khianati, apalagi orang lain,” celetuk Mang Is, penjaga WC umum di
terminal.
Jumat, 26 April 2013
Haruskah aku? [GagasMedia WRITING CHALLENGE: Monolog 100 Kata]
Haruskah aku ke bawah dan hadir di pernikahan Ayah? Bergaun
putih dengan mahkota kecil, memaksakan senyum pada Bu Elena, bertemu
teman-teman sekolah, bertemu… Raka.
Kenapa begini, Bunda?
Kenapa Bunda tidak pernah cerita
kalau cinta pertama Ayah itu Bu Elena? Cinta pertama yang menarik-narik Ayah
kembali ke masa lalu dan menumbuhkan… cinta lama itu. Kenapa aku harus jatuh cinta pada Raka? Kenapa pula
harus Raka yang jadi anak Bu Elena? Anak dari perempuan perusak rumah tangga
Ayah dan Bunda. Anak yang kujanjikan kematiannya di depan Bunda kala hendak
pergi.
Bagaimana cara membunuh orang yang
kita cintai, Bunda? Bunda tidak pernah mengajariku.
nb: FF ini diikutkan di lombanya GagasMedia :)
wish me luck ya ^^
Rabu, 24 April 2013
Raka is Nothing
#FF2in1 tema pertama : 'Miss
Independent' - Kelly CLarkson
@nulisbuku
"Rin, tumben gak dijemput sama Raka?"
tanya Kira keheranan. Kan biasanya Karin tak pernah absen dijemput Raka. Kapan
pun, di mana pun, dalam acara apa pun. Tapi kenapa kali ini tidak?
.....
"Kalian marahan ya?"
tebak Kira.
"Enggak tuh," jawab
Karin singkat.
"Oh, dia lagi gak ada ya?
Ke mana, Rin?"
"Dia ada kok."
"Terus? Kok?"
"Gue udah putus dari
dia," jawab Karin enteng.
"Hah?!"
"Iya, simple aja alasannya.
Gue males diatur-atur sama orang yang sama sekali bukan apa-apa gue. Oke, dia
pacar gue. CUMA PACAR. Dia gak ngelahirin gue dan dia gak ngebiayain hidup
gue."
"Lo yakin?"
"Iya lah. Gue malah bangga.
Akhirnya gue bisa ngambil keputusan yang bener. Call me Miss Independent,"
kata Karin sambil mengerlingkan mata.
nb: saya gak sempat ngikutin FF yang ini.. gak keburu deadline-nya...
Langganan:
Postingan (Atom)
